Notice: Use of undefined constant tanggal - assumed 'tanggal' in /home/dmrbursa/public_html/sekarjagad.co.id/print-artikel.php on line 17

Notice: Use of undefined constant dibaca - assumed 'dibaca' in /home/dmrbursa/public_html/sekarjagad.co.id/print-artikel.php on line 18

Ghaib di Kaki Si Ibu

By Paguyuban Sekarjagad Pada : 26 Feb 2016, 19:43:03 WIB, - Kategori : NON MEDIS
Notice: Use of undefined constant gambar - assumed 'gambar' in /home/dmrbursa/public_html/sekarjagad.co.id/print-artikel.php on line 21
Ghaib di Kaki Si Ibu

Ada pasien yang datang karena keluhan sakit di perut. Tiba-tiba sekitar 3 hari yang lalu, sudah di obati pakai obat ternyata tidak ada perkembangan. Lalu saya minta beliau berbaring, kelihatan gelisah yang di dalam perutnya, tidak perlu di introgasi. Sepertinya dia tahu apa yang harus di lakukan, melalui organ dalam, diapun merambat ke atas dan agak memaksakan diri berbelok ke ketiak tangan kiri sebelum akhirnya keluar dari telapak tangan.

Saat muncul ke permukaan, agak heran juga saya, karena ukuran tubuhnya lebih tinggi dari orang dewasa danLebih kurus lagi, cuma kulit pembungkus tulang. Ekspresinya lebih mirip zombie dengan tubuhnya yang kotor seperti berdebu tebal. Kepalanya tidak bisa diangkat. Tidak bisa berdiri, hanya merangkak. Sebentar tubuhnya yang kurus kumal itu di atas si ibu. Menatap wajahnya lalu menggeleng-nggelengkan kepalanya seolah menerobos keinginan. Rambutnya yang jarang itu terlihat makin berantakan. Dia berdiam di saluran telor sebelah kanan sehingga organ itu membengkak. Meski sudah mengecil, namun kuku-kukunya yang panjang tetap mencuat dan itu yang menyebabkan nyeri seperti di tusuk bila bergerak. Sekali lagi dia menoleh ke saya dengan mata sayu, saya diam saja dan hanya mengamati yg di lakukan. Perlahan merambat turun dan keluar dari rumah lalu mengarah ke timur.

Sekitar 15 menit setelah berbaring, saya tanyakan yang dirasakan oleh pasien. "Penyakitnya sepertinya bergerak, pindah ke tangan sehingga tangan terasa berat dan seperti ditarik-tarik." Kata si pasien dengan lemas. Lalu 5 menit kemudian beliau berkata lagi, "Terasa keluar dari telapak tangan," dengan nada pelan. Dan segala keluhan pun secara ajaib hilang. Karena tidak yakin, beliau menekan-nekan dan meggerak-nggerakan tubuhnya. "Iya benar pak, sudah tidak terasa sama sekali. Tadi itu apa ya pak?," tanya beliau. "Angin jelek bu, Slhamdulillah kalau sudah keluar semua," jawab saya.

 

(By Romo Sidharto Haryo Pusoro)