Kisah Perjalanan Sukma

By Paguyuban Sekarjagad Pada : 23 Mei 2016, 15:49:10 WIB, - Kategori : Gaib & SpiritualKisah Perjalanan Sukma

Saat itu kita hanya bisa duduk diam, tidak ada waktu, tidak ada pergantian siang dan malam, tidak ada lapar dahaga, semua ingatan masih ada namun hasrat telah tiada. Semua tertunduk pasrah, apa yang pernah dialami semasa hidup teringat dengan jelas seakan sejak di lahirkan semuanya di ingat.

Tidak ada waktu, sehingga tidak ada halangan untuk mengingat semua kejadian yang telah di alami.Ketika hasrat sudah tidak ada, barulah bisa menyadari, betapa banyak kesalahan yang telah di lakukan. Betapa bodohnya menyia-nyiakan kesempurnaan hanya karena saat itu kita di beri waktu.

Duduk di pasir warna putih kecoklatan, tidak ada angin, tidak ada matahari atau bulan, tidak ada yang bergerak, semua diam. Di atas, langit berwarna merah kekuningan, hening sunyi, seakan bernafas pun tidak.

Tidak terasa lelah, tidak merasa kesemutan, tidak ngatuk, tidak terasa gatal ataupun sakit. Udara terasa hangat, tidak ada yang berkeringat. Tidak tampak adanya pepohonan, atau perbukitan. Hanya padang luas.

Sulit membedakan antara kita dengan jin, berbaur membentuk barisan rapi tak terhitung sepanjang mata memandang, semua mengenakan penutup tubuh yang sama berwarna putih kecoklatan. Bahannya seperti perpaduan kain dengan kertas karena agak kaku dan jelas bahwa tidak mudah di robek.  Disana tidak ada setan ataupun iblis.

Ketika giliranku menghadap, hanya ada 2 sosok yang menantikanku. Seorang pria dengan pakaian Yunani yang duduk tenang di sebuah kursi dari batu putih, disebelahnya berjarak sekitar 3 meter ada tubuh saya, duduk di bangku yang sama. Di hadapannya sekitar 2 meter ada kursi dari batu juga, kursi kosong tempat dudukku.Tidak ada benda lain di sana hanya ada jalan masuk dan jalan keluar letaknya berhadapan, seolah mereka duduk di tepi jalan sebalah kanan dan duduk saya di sebelah kiri.

Ketika sudah duduk berhadapan dengan mereka, tidak ada yang bisa saya katakan, tidak perlu pembela, tidak ada yang bisa di ingkari."Ketika tubuhku bersaksi melawanku, atas apa yang telah saya perbuat, apa yang bisa saya perbuat selain mengakui semuanya."

 

By Romo Sidharto Haryo Pusoro