Perjalanan Hidup Hingga Sampai Ke Padepokan Sekarjagad

By Paguyuban Sekarjagad Pada : 20 Jan 2017, 18:09:17 WIB, - Kategori : WawasanPerjalanan Hidup Hingga Sampai Ke Padepokan Sekarjagad

Sebuah catatan perjalanan hingga bisa masuk dalam keluarga besar Paguyuban Sekarjagad. Awalnya saya ikut nimbrung saja karena sangat suka dengan dunia spritual dan nguri-nguri budaya atau leluhur jawa yang menurut cerita si mbah sangat hebat dan tangguh. Kata pepatah, "Sebuah proses dalam pencarian tak akan pernah menghianati prosesnya" atau dalam filosofi jawa di sebutkan, “Sopo Nandur Bakal Ngunduh” dan “Ilmu kuwi kelakone nganti laku.
 
Saya terbilang orang yang suka kekerasan. Hidup dikota besar di Surabaya ini kata orang pinggiran, “Lek isin yo gak mangan (kalau malu pasti tidak makan).” Maka hampir sebagian besar kehidupan saya habiskan di sepanjang jalan atau bahasa kasarnya anak jalanan. Hidup keras berkumpul dengan para perantauan membuat saya harus beradu kekuatan fisik. Bagi saya, "Hari ini kalah, besok harus menang atau membalas."
 
Suatu ketika saya harus masuk dan mendalami ilmu kanuragan untuk keselamatan dan lebih utama untuk bertarung. Ilmu macan identik dengan kanuragan. Hanya beberapa amalan saya baca, sudah hampir ribuan kekuataan yang membantu saya. Rasanya saya seperti orang hebat walau di keroyok puluhan orang sekalipun. Berbagai jimat saya koleksi untuk menjaga diri di jalanan.
 
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tahun, membuat saya semakin tidak nyaman dengan apa yang saya amalkan. Seketika emosi, badan kaku seperti kerasukan. Kata kawan saya, saya seperti macan ganas yang siap memangsa siapapun yang menantang. Bahkan kalau sudah merasuk saya seperti orang kesurupan dan siap menerkam.
 
Suatu ketika perlahan saya tinggalkan, amalan tidak pernah saya baca dan saya akhirnya masuk ke pengajian yang menurut saya cocok. Baik dalam segi pemahaman, keilmuan penangkapan otak dan pemikiran saya. Dalam perjalanannya saya semakin mantap untuk olah rasa dan bathin. Iseng-iseng buka sosial media di grup-grup spiritual. Hhingga saya masuk di grup Padepokan Sekarjagad. Cukup lama saya mengamati dan menyimak ilmu-ilmu kasepuhan di grup tersebut. Hingga bathin tergerak untuk ikut bergabung di keluarga besar Padepokan Sekarjagad.
 
Mendalami ilmu di Padepokan Sekarjagad serasa cocok dengan bathin saya. Maklum saja karena saya dilahirkan di keluarga yang “njawani” , almarhum/ swargi simbah adalah dukun bancik di desa, sedang simbah saya yang perempuan masih hidup di umur 1 abad ini.
 
Semakin hari saya mempelajari, ternyata ada satu hal yang sangat jarang orang pelajari. Yaitu tentang hakekat kehidupan ini. Padahal banyak nilai-nilai luhur yang diajarkan leluhur kita dahulu. Rasa kebersamaan, guyub rukun serta gotong royong saya dapatkan di keluarga besar Padepokan Sekarjagad. Pada intinya menjadikan saya manusia yang berguna dan bermanfaat bagi manusia lain.
 
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Guru Besar Padepokan Sekarjagad yang telah membimbing saya untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk sekitar. Walaupun saya sendiri masih mencari jatidiri. Kepada para senior yang selalu membimbing dan membantu saya, tak lupa saya ucapkan terima kasih, karena Padepokan Sekarjagad ini bagi saya bukan hanya sebuah organisasi atau perguruan ilmu kasepuhan saja, tetapi sudah seperti keluarga dan rumah untuk saya walau hanya untuk sekedar beristirahat.
 
Semoga rasa kekeluargaan ini tidak hanya sampai di sini, tetapi dalam skala lingkup yang lebih besar menciptakan dan melahirkan manusia-manusia yang berbakat, bermanfaat dan berbudi luhur terhadap bangsa dan negara ini.
 
Rahayu Mulyaning Jagad , Jaya Jaya Wijayanti , Gusti Hamberkarkahi.
 
BY : FZ