Notice: Use of undefined constant tanggal - assumed 'tanggal' in /home/dmrbursa/public_html/sekarjagad.co.id/print-artikel.php on line 17

Notice: Use of undefined constant dibaca - assumed 'dibaca' in /home/dmrbursa/public_html/sekarjagad.co.id/print-artikel.php on line 18

Unsur Logam, Kayu, Air Dan Api

By Paguyuban Sekarjagad Pada : 22 Mar 2016, 16:49:55 WIB, - Kategori : Gaib & Spiritual
Notice: Use of undefined constant gambar - assumed 'gambar' in /home/dmrbursa/public_html/sekarjagad.co.id/print-artikel.php on line 21
Unsur Logam, Kayu, Air Dan Api

Burung Hong, Alkisah adalah rajanya burung dan unsur api nya terkuat di antara semua makhluk, keistimewaannya adalah dapat bangkit dari kematiannya. Naga, simbol kejayaan; kura-kura, simbol umur panjang, dan satu lagi Kilin, berkepala naga, bersisik naga, berbadan dan berkaki harimau. Binatang- binatang mitologi Cina, yang mana konon adalah binatang surga dan hanya keluar dan sering dilihat umum dalam masa negara jaya, diperintah raja yang bijaksana dan cinta pada rakyatnya.

Keempat binatang ini simbol dari / yang terkuat dalam unsur logam, kayu, air, dan api, yang mana logam simbol kebaikan, api simbol persaudaraan, air simbol tata susila, kayu simbol kebijaksanaan. Ini adalah empat dari lima sifat baik manusia dalam Konfusianisme dan sama dengan empat dari lima sila pantangan dalam Agama Buddha. Satu satunya makhluk yang punya keempat sifat baik ini adalah manusia, sehingga sifatnya dapat dipercaya. Sifat kelima yang adalah gabungan empat sifat lainnya, persesuaiannya pantangan dilarang berbohong dalam agama Buddha.

Lima unsur ini meliputi (berkuasa dalam) negara kelahiran, tahun, bulan, hari, dan jam kelahiran manusia, sehingga dapat dihitung peruntungan dan nasib serta sifat seorang dalam hidupnya sesuai ilmu ramal Cina kuno, juga lima unsur ini adalah dalil pokok ilmu pengobatan Cina yang memegang keselarasan kelimanya sebagai dasar pengobatan.

Maka itu manusia yang kasih sayangnya sudah melampaui batasan negara dan bangsa lepas dari jeratan lima unsur ini, lepas dari jeratan nasib dan karma, adalah Buddha yang Kekasih Tuhan. Kasih sayang dimulai dari timbulnya kebaikan diri sendiri, lalu untuk orang tua dan keluarga, lalu bangsa dan negara, barulah untuk semesta dan pencipta. Demikian pula laku berbhakti itu dimulai dari Bhakti pada orang tua, meningkat menjadi Bhakti pada bangsa dan negara, barulah layak Berbhakti Pada Tuhan, amin.

By Franky Rudiyanto Tanojo